Klasik Beans

Dari Hal Ini Kami Memulai Kisah Kopi

Sebelum Koperasi Klasik Beans didirikan, pada awalnya kita membentuk Paguyuban Tani Sunda Hejo untuk kebutuhan hutan konservasi di Kawasan Hutan yang ada di Jawa Barat. Karena pengetahuan berkelanjutan yang petani tidak mencukupi pada tahun 1999, banyak di daerah terutama yang tinggal di dataran tinggi umumnya mengurangi luas hutan untuk dipindahkan sebagai kebun sayuran. Dengan minimnya transparansi petani perdagangan sebenarnya dari sayuran antaradan pembeli, ini menyebabkan eksploitasi terhadap petani. Fluktuasi harga yang tidak stabil dan seringkali harga beli ke petani terhadap komoditas yang dinilai rendah.

Seiring Indonesia dilanda krisis keuangan, menurunnya daya beli masyarakat dan hutang, akhirnya meninggalkan hutan yang baru dibuka ini. Dalam situasi ini muncul masalah lingkungan dan alih fungsi lahan, yang secara terus-menerus mengikis dan merusak ekosistem lokal. Ketika sumber air berkurang, Ketika pupuk kimia dan pestisida menjadi stres tanah air area hutan ketika pohon ditebang di hutan. Penghancuran bidang tanah yang curam di dataran tinggi dengan menanam sayuran dengan pupuk intensif & pestisida sangat tinggi dan sekarang masih berlangsung. Orang membutuhkan keuntungan ekonomis dari tanah mereka, namun kerugian untuk generasi berikutnya lebih tinggi daripada manfaatnya sendiri. Sedangkan udara, tanah suburban dan udara segar adalah kebutuhan dasar untuk pertanian dan bagi kita sebagai manusia. Hal inilah yang mendorong kami untuk bertindak. Kami berkumpul dan mulai mencari solusi bagaimana menemukan alam di dataran tinggi, sementara pada saat bersamaan juga menghasilkan pendapatan secara ekonomis agar skalanya berkelanjutan dan jangka panjang.

Kami melihat kopi sebagai solusi dan komoditas yang sempurna untuk mengatasi masalah dan satu-satunya model pertanian yang harus dikembangkan yaitu dengan menerapkan sistem pertanian AGROFORESTY, dan kami memilih kopi arabika sebagai produk utama. Pertama, meski memerlukan masa panen lebih lama, kopi tanaman yang sangat membutuhkan pestisida dan pupuk sintetis yang dapat merusak tanah. Kedua, kopi dapat tumbuh di antara pohon-pohon hutan dan memberikan pendapatan yang cukup stabil bagi petani. Mengubah secara dramatis pola piker masyarakat.

Dalam perjalanan kami terus mempelajari budidaya kopi yang sehat dan berkualitas dari mulai dikebun sampai dengan pengolahan kopi paska panen. Motivasinya karena kami menemukan bahwa masyarakat Indonesia pada umunya sangat minim mengkonsumsi dari berbagai daerah di tanah air sendiri yang diolah dan diproduksi secara sehat dan berkualitas. Dari mempelajari kopi dan budaya masyarakat, kita mendapatkan ilmu tentang manajeme, kontrol kualitas, dan etos budaya kerja yang baik. Tanpa komitmen dan konsistensi terhadap kualitas dan etos kerja kemungkinan dapat memproduksi kopi yang sehat dan berkualitas. Jika kopi diolah dengan baik maka harga tidak akan lebih rendah sehingga dapat meningkatkan ekonomi bagi petani.

Pelestarian alam melalui budidaya kopi dan komitmen mengolah kopi sehat dan berkualitas. Dua hal inilah yang menjadi ruh dan penopang setiap gerak langkah kami. Melalui pelatihan pengelolaan bibit, pelatihan pemetikan, pembuatan kompos, dan demo kebun dengan 8 petani di tahun 2009, kami melihat peningkatan minat masyarakat untuk menanam kopi hanya dalam waktu 2 tahun. Kami membentuk Paguyuban Tani Sunda Hejo lalu mengembangkan kebun kami tahun 2009 dan pada tahun 24 Oktober 2011, kami mengumumkan pendirian Koperasi Klasik Beans. Di Jawa Barat, konsep “kopi konservasi” ini dapat berjalan dan berkembang pesat, oleh karena itu pada awal tahun 2013 kita mencoba menerapkan konsep ini ke beberapa wilayah / pulau lain di beberapa wilayah Nusantara, yaitu di : Bener Meriah – Gayo Aceh, Enrekang – Sulawesi Selatan, Waerebo – Flores.

1/13