Sampurasun,

Saya Sony.

Lebih dikenal dengan nama Sony Abray.

Julukan lainnya adalah Sony Koordinat.


Saya besar di selatan, orang pekidulan kalau kata orang sunda lainnya, di paparan walungan cilaki, di desa selaawi kecamatan talegong.


Gunung dan lembah adalah tempat bermain saya sejak kecil. Mungkin ingatan-ingatan bawah sadarnya tersimpan rapi lapis-lapis otak saya.


Saya seorang demonstran, saya menolak ketidakadilan di negeri ini utamanya paska 1998 an. Orasi-orasi yang memecah kebuntuan adalah anugrah saya.


Lantas apa yang menghambat karir demonstran atau politik saya? Sehingga akhirnya menjadi petani kopi?


Setelah saya amati, gunung dan sungailah yang mengalihkan profesi saya. Bagaimana tidak, dalam ketidak mampuan ekonomi, saya beberapa kali memutuskan jalan kaki dari kampung saya di talegong ke kampus di garut. Jalan kaki naik turun gunung menembus belantara hutan sendirian. Sejauh kira-kira 80 km. Rasa takut bercampur lelah, akhirnya mendidik mental saya untuk mengerti fungsi-fungsi semua makhluk hidup yang saya lihat selama perjalanan.


Biodiversitas, meluruhkan emosi dan hasrat politik saya kemudian di alihkan menjadi kasih sayang terhadap pohon.Terdengar mengada-ada, namun itulah saya.


Saat ini disamping sebagai petani kopi, saya juga seorang seniman karinding. Profesi baru saya beberapa tahun belakangan adalah lurah hutan talun kopi (agroforestri) kewung, di kaki gunung mandalawangi.


Hidup lebih damai, karena saya yakin, angin yang dihasilkan hutan kopi talun ini menyampaikan pesan konservasi, kopi yang diseduh m


engajak orang duduk diplomasi, air yang mengalir kebawah mensucikan kaki-kaki anak2 kecil penyambung generasi sementara hangat CO2 murninya menjaga semangat hidup.


Semua ini jauh lebih baik.

Lebih hormat menghormati.

Bukankan peran manusia dimuka bumi hanya sebagai pengelola? Bukan penguasa?


Salam kopi...

58 views0 comments

Recent Posts

See All