Abah Emip


Awal 2009 saya sekeluarga di kampung cinangela kedatangan beberapa orang tamu, yang dikemudian hari saya kenal sebagai perintis KlasikBeans.


Orang-orang kopi, namum bicaranya tentang konservasi, tentang lingkungan, tentang hutan..dsb. Saya jadi bingung, kurang paham.


Beberapa waktu kemudian, mereka mendirikan 'shelter' kecil untuk proses kopi di Panawuan. Saya pun mulai ikut terlibat.


Perlahan saya mengerti hubungan erat kopi dan lingkungan. Sementara di sebelah barat gunung malabar, tepatnya di gunung puntang, mereka mencoba membuat kebun kopi percontohan pada tahun 2010/2011.


Gunung puntang dimasalalu, penanaman kopi dilakukan tanpa pendampingan pengetahuan pembuatan bibit, penanaman dan pemeliharaan yang baik. Sehingga kebanyakan kopi tidak tumbuh dengan subur yang menyebabkan petani perlu menanam ulang setelah 4 tahun.


Setelah kebun model klasik beans yang dengan pelatihan pembibitan maka kebun kopi berangsur membaik. Begitupun lingkungan dan pengetahuan masyarakatnya. Konsepnya hutan kopi talun (agroforestri). Pohon-pohon endemik mulai ditanam bersamaan dengan kopi, kami menamakannya REFORESTASI. Bersama masyarakat reforestasi dimulai tahun 2009 sampai sekarang 2022.


Ditahun 2016, kami melakukan sedekah alam di Gunung Puntang, kegiatannya adalah Cupping 1000 gelas (uji cita rasa kopi) dan reforestasi 10.000 pohon di blok salawe 25 Ha, dihadiri oleh para relawan lingkungan, relawan penggiat kopi dan warga.


Saya sendiri dari perjalanan ini disamping menjadi petani saya lebih senang berkomunikasi dengan warga lokal, menjadi relawan bencana alam dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Teryata ini hubungan antara kopi dan lingkungan yang saya pelajari. Teman-teman sering membagi saya tugas untuk pendekatan sosial masyarakat.






93 views0 comments

Recent Posts

See All