Bicara tentang sulawesi, tentunya tidak akan cukup diceritakan di sini.

Karena sejatinya, pulau yang banyak sekali dongeng lokalnya ini, masih menyimpan banyak sekali misteri tentang manusia, hewan, tumbuhan, geologi, antropologi, arkeologi, budaya dsb.



Sekedar ilustrasi untuk latar belakang pengetahuan,

Kopi Klasik beans di sulawesi sekarang di wakili oleh Kang Zaenal dan Budi.

Di sana terdapat satu sungai bernama sungai galonggong, sungai yang akan bermuara di sungai Mata Allo kemudian bergabung dengan sungai Sadang yang bermuara di Bababinanga Pinrang.



Sungai itu ada di ketinggian 1.700 m,  di bawahnya baru terdapat kebun-kebun kopi. Sungainya sendiri jernih dan dangkal. Banyak batuan-batuan kecil berwarna di dasarnya.


Hutan adalah kehidupan masyarakat di kaki latimojong. Beberapa kampung masih mempunyai tradisi menanam 10 pohon bagi mereka yang akan menikah.

Bagaimana mengontrolnya kelak?

Mudah, karena tradisi di sini adalah tradisi gotong royong, setiap rumah dibangun oleh warga.  Jadi menebang pohon juga ditentukan oleh warga, pemilik rumah hanya bertugas menyiapkan makanan untuk tetangga yang membantunya.

Sebuah rumah panggung kayu ukuran 6 x 12m biasanya selesai dalam waktu 2 minggu.



Jadi jangan heran, kalau di sulawesi, tiba-tiba ketemu rombongan orang yang mengangkut papan, artinya mereka sedang bergotong royong.


Klasikbeans sendiri, hanya berbagi pengetahuan dasar tentang mengolah kopi dan budidaya kopi agroforestry. Keputusan pengembangannya menjadi keputusan warga di sana. Pada mulanya semua kopi di jual sebagai toraja. Padahal 70% produksi berasal dari Latimojong (enrekang). Setelah klasikbeans, yang dipimpin oleh Dadang, Rady dan Zaenal (kemudian diteruskan oleh Zaenal dan Budi), tahun 2013, mulailah muncul kopi-kopi sesuai dengan daerahnya, bukan cuma toraja. Sekarang, kita mudah mendengar banyak nama origin sulawesi. Jadi lumayan peran kita di sana, sedikit, namun menjadi pionir, dan tercatat di sejarah.


Kemudian kita mengenal, karangan, bone-bone, wae-wae (foto pohon kopi terlampir), potokulin, pendokesan, kalaciri dan masih banyak lagi nama-nama desa lainnya.



Sungai dan hutan memang dijaga kelestariannya oleh warga setempat. Karena sampai tahun 2013 saya ke sana, masih sangat banyak desa-desa yang listriknya dari air (turbin air swadaya), sehingga air di hutan pasti di jaga debitnya bersama.


5 views0 comments